Senjata Ampuh Semut dalam Menyerang dan Bertahan

22 08 2010

Jangan pernah main-main dengan semut! walaupun semut kelihatan kecil dan tidak berdaya, tapi hati-hati dengan senjata yang dimiliki oleh semut. Untuk menyerang  dan bertahan  semut memiliki tiga cara jitu yaitu:

  1. Menggigit dengan mandibulanya
  2. Menyemprotkan zat kimia beracun
  3. Menggunakan sengatnya

Sebagian besar semut  mengkombinasikan elemen-elemen yang mereka miliki. Elemen mandibula dikombinasikan dengan Elemen air, maka jadilah tehnik menggigit dengan semprotan zat kimia beracun. Ketika elemen sengat dikombinasikan dengan elemen mandibula, maka jadilah tehnik yang sangat mematikan. Tehnik-tehnik ini  telah mereka pelajari dan kuasai selama turun-temurun.

Menggigit dengan mandibulanya merupakan cara jitu yang dipakai oleh beberapa semut diantaranya oleh semut dari genus Formica.

Semut yang bersenjatakan zat kimia beracun atau lebil dikenal dengan asam format digunakan oleh semut Oecophylla atau  karanggo dan Crematogaster. Oecophylla mengkombinasikan asam format dan gigitannya dalam menyerang dan mempertahankan diri. Asam format yang dihasilkan berbau busuk. Ketika semut ini menyemprotkan asam formatnya. Ada dua hal yang akan terjadi; pertama, alarm tanda bahaya bagi seluruh anggota koloninya dan kedua, sasaran atau target yang akan diserang oleh semut ini.

Tehnik bertahan dan menyerang yang paling mematikan dari semut adalah sengat. Sebagian besar semut juga mengkombinasikan sengat dengan gigitan mandibulanya. Semut yang memiliki senjata ini diantaranya dari genus Leptogenys dan Solenopsis. Khususnya pada genus solenopsis atau semut api memiliki zat beracun pada sengatnya yang  disebut solenopsin. Zat ini akan menyebabkan pedih dan gatal-gatal dan bisa sangat berbahaya bagi manusia yang memiliki alergi kulit (Antboy).





Reptil (Antara Mitos dan Sains)

29 06 2010

Siapa sih yang tidak tahu dengan Reptil atau biasa disebut binatang melata dan juga banyak cerita-cerita tentang binatang ini yang sering didengar dalam kehidupan sehari-hari. Semua yang terdengar begitu menakutkan bagi orang awam, sebut saja ular; semua ular berbisa; ular dengan corak berwarna terang berbisa; kadal-kadal tertentu berbisa serta mematikan dan lain-lain. Apakah semua cerita tersebut benar ? Nah disini kita akan mengupas cerita-cerita tersebut berdasarkan pengalaman dan perjalanan saya selama kuliah di Biologi baik KL maupun perjalanan sehari-hari yang tentunya sangat terbatas oleh ruang dan waktu (Sumatera Barat).

Pertama-tama kita bicarakan binatang melata yang paling dikenal masyarakat awam secara morfologi/bentuk tubuh yang sangat berbeda dengan binatang lain. Ular memiliki banyak cerita yang lebih tepatnya disebut mitos. Pada salah satu mitos disebutkan bahwa semua ular berbisa, padahal hanya 17 dari seratusan jenis ular yang berbisa (berdasarkan Venomous Snakes of Asia karangan Gernot Vogel), semua jenis ular berbisa tersebut tersebar diberbagai ketinggian dan tipe habitat. Mungkin masyarakat yang hidup di daerah desa atau kota sekalipun pernah mendengar jenis ular dengan nama lokal Cantik Manis (Indonesia) atau Cinto Manih (Minang). Ular Cinto Manih berdasarkan mitos sangatlah unik dimana ular ini adalah ular yang dahulunya hidup disurga bersama Adam dan Hawa. Baca entri selengkapnya »





Zozo Most Wanted: Rhacophorus barisani

29 06 2010

Hewan yang sekarang kami promosikan sebagai species of the week adalah sejenis katak pohon yang termasuk ke dalam keluarga besar Rhacophoridae: Rhacophorus barisani Harvey, Pemberton and Smith, 2002. Katak pohon ini masih baru dikenal dalam dunia taksonomi, dibuktikan lebih lanjut dengan statusnya yang masih Data Deficient (DD) dalam Daftar Merah IUCN (IUCN Redlist). Katak pohon ini dideskripsikan pertama kali pada tahun 2002, merupakan jenis amphibia yang hanya bisa ditemukan di Indonesia (endemik) dan lebih khususnya lagi, spesimen yang pertama kali dideskripsikan untuk mendapatkan status jenisnya di dalam taksonomi berasal dari Bukit Kaba, Bengkulu, Sumatera. Habitat alaminya adalah pada hutan tropis yang lembab di pegunungan, kawasan sungai dan rawa-rawa air tawar. Baca entri selengkapnya »





The Revenge to the Ants (Part I)

29 06 2010

Setelah dua kali terbitan kemaren disuguhi tentang “semut menyemut”, saya jadi rada-rada gusar juga. Soalnya, sebagai penggemar sesuatu yang berukuran “XL”, melihat yang kecil-kecil secara terus menerus jadi “BeTe” juga. Sebagai wujud rasa ke-BeTe-an yang terus mengejawantah menjadi dendam, lahirlah tulisan “The revenge to the Ants” ini. Sebagai orang yang berbakat menjadi aktor di belakang layar, saya perlu beberapa boneka untuk diperalat melakukan dendam saya ini. Inilah mereka:

Burung pelatuk (family Picidae). Mereka umumnya menggunakan semut untuk melindungi bulu-bulu mereka dari serangan serangga hama. Semut mengandung asam format yang menjadi momok bagi banyak serangga lain. Burung pelatuk menggunakan zat ini dengan mengoleskannya secara rutin ke bulu-bulu mereka. Anda yang bermasalah dengan kutu-kutuan atau serangga lain mungkin sebaiknya juga mulai melakukan terapi ini. Ingat, jika masalah berlanjut, jangan hubungi saya!! Baca entri selengkapnya »





Seri 2: Terlihat di Dalam Sangkar -Jika Bertemu Berang-berang Lakukan Ini!

18 06 2010

Pada seri sebelumnya (seri 1) telah dijelaskan apa yang harus dilakukan jika bertemu berang-berang di alam. Pada kali ini akan dicoba dijelaskan prosedur yang akan dilakukan jika melihat berang-berang yang berada di dalam sangkar. Hal ini akan sangat membantu dalam pengidentifikasian berang-berang (siapa tau anda mendapatkan the most wanted species Lutra sumatrana).

Jika anda melihat berang-berang di dalam sangkar, ditangkap atau tertangkap oleh seseorang ataupun melihatnya di kebun binatang maka lakukan ini: Baca entri selengkapnya »





Seri: Sisi Positif Semut -Semut sebagai Bioindikator

9 06 2010

Spesies indikator merupakan suatu spesies yang sangat peka terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungannya. Apabila lingkungan tempat tinggalnya terganggu, maka spesies indikator akan memperlihatkan gejala terpengaruh terhadap perubahan yang terjadi. Pada saat sekarang ini penggunaan bioindikator dirasakan sangat penting, karena dengan adanya bioindikator kita bisa melihat pengaruh antara faktor biotik dan abiotik yang terjadi pada lingkungan, baik yang disebabkan oleh aktifitas manusia atau oleh alam sendiri (bencana alam).

Salah satu hewan yang dijadikan sebagai bioindikator, diantaranya adalah semut. Ada beberapa jenis semut yang bisa dijadikan sebagai spesies indikator. Pada artikel ini hanya dibahas tentang semut dari genus Odontoponera. Dua spesies dari genus Odontoponera yang dilaporkan terdapat di Asia tenggara, yaitu Baca entri selengkapnya »





Rawa Kasai atau Danau Kasai: Sebuah Lokasi yang Belum Terekspos

6 06 2010

Rawa yang terletak di Kecamatan Basa Ampek Balai (Tapan) Pesisir Selatan ini terbentuk kerena proses alam tapi akibat ulah manusia. Kira-kira empat tahun yang lalu, rawa ini merupakan sawah penduduk, namun tumpukan kayu yang hanyut dari hulu yang makin lama makin banyak, menghalangi aliran sungai Kumbuang. Hal ini memaksa air sungai ini memilih jalan lain ke daerah persawahan penduduk.

Di rawa ini masih terlihat sisa-sisa reruntuhan pondok petani yang digunakan saat masih menjadi sawah. Kawasan yang digenangi mungkin mencapai puluhan hektar. Saat ini menjadi tempat tinggal bagi beberapa jenis hewan liar yang mungkin cukup atau sangat sulit di jumpai di daerah lain, yaitu belibis, pecuk ular, dan bangau-bangauan serta burung air lainnya (maaf, belum tau nama latinnya). Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.