Tips membuat laporan yang baik

31 03 2013

Studi kasus: laporan praktikum taksonomi hewan vertebrata

Laporan kadang-kadang menjadi suatu hal yang dibenci oleh praktikan. “Susah-susah membuatnya, malah dicoret oleh asisten, dan rendah pula nilainya” demikianlah anggapan dari beberapa praktikan. Polemik tentang seputar laporan ini pun berkembang di civitas biologi. Harus pakai mesin ketik, atau ditulis tangan, kirim pakai email, dengan daftar pustaka minimal 10lah, harus acc tiga kali lah dan syarat-syarat lainnyalah yang membuat praktikan “Maupek-upek dalam hati”. Namun, sebenarnya ada hubungan antara mahasiswa yang rajin buat laporan dengan cepat tamat (untuk lebih pastinya silahkan lakukan pengujian), karena dalam pembuatan laporan, kita telah dibiasakan dengan sistem-sistem yang sangat menyerupai dalam pembuatan tugas akhir atau skripsi.

Dalam tulisan ini akan dicoba berbagi pengetahuan yang berasal dari sedikit pengalaman telah menjadi beberapa asisten praktikum, yang dijejali dengan tugas pemeriksaan laporan-laporan praktikan.

Ada hal penting yang perlu disampaikan (bukak coki asisten):

Dalam pemeriksaan laporan, asisten tidak akan membaca detil keseluruhan laporan, ada poin-poin penting yang diperhatikan oleh asisten dalam penilaian. Jika poin penting ini terpenuhi, akan mendapat nilai sempurna.”

Poin-poin penting itu adalah (ayo, kita periksa mulai dari halaman depan sampai daftar pustaka dan lampiran):

  • Halaman depan. Di halaman ini pastikan format, dan judul praktikumnya sudah benar, untuk lebih pastinya tanyakan ke asisten. Jika mencantumkan nama asisten, awas, jangan sampai salah (ka diulang pembinaan liak?!?!).
  • Pendahuluan. pada pendahuluan ini biasanya berisi latar belakang dan tujuan praktikum. Pada beberapa praktikum juga memasukkan tinjauan pustaka pada bab satu ini.

    Isi latar belakang adalah: Kenapa penting kita melakukan praktikum ini? Pada praktikum taksonomi hewan vertebrata (THV), kita melakukan pengamatan morfologi dengan berbagai macam jenis hewan yang beranekaragam bentuknya. Nah, pada latar belakang kita bisa memasukkan informasi-informasi yang membuat praktikum tentang objek tersebut menjadi harus penting dilakukan, misalnya, kelas tersebut jenisnya banyak, beranekaragam baik jenis dan bentuknya, namun terancam, fungsinya di alam penting dan lain lain. Dalam latar belakang tidaklah perlu banyak-banyak, lima sampai enam paragraf pun sudah cukup, yang penting isinya tepat.

    Tujuan sebenarnya sudah jelas dalam praktikum, kadang-kadang di dalam diktat telah dituliskan apa tujuan praktikumnya. Jika tidak tertulis di diktat, silahkan tanya ke asisten. Hal yang perlu diperhatikan adalah, buatlah tujuan praktikum tersebut dengan kalimat yang baik, benar dan lengkap.

  • Tinjauan pustaka merupakan hasil kumpulan dari berbagai literatur yang didapatkan. Jadi, cara membuatnya, kumpulkan saja dulu bahan-bahan dari berbagai sumber, lalu pilih dan susun menjadi hal yang tersusun dan sistematis. Pastikan tersusun secara sistematis dari hal yang umum ke hal yang khusus. Jangan masukkan “cerita” yang tidak ada hubungannya dengan praktikum. Baca, apakah susunan antar paragraf sudah nyambung, dari paragraf pertama, kedua dst. Jika diperlukan, dapat ditambahkan sedikit kata-kata penghubung agar antar paragraf memiliki hubungan.
  • Pelaksanaan praktikum. Pada bab ini biasanya praktikan sering salah dalam membuatnya. Mungkin karena bab ini dianggap sepele, sehingga sering di “salin tempel” dari praktikum sebelumnya. Pastikan informasi yang tertulis di bab ini benar, misalnya waktu, nama latin bahan yang dibawa. Lalu buat lah cara kerja yang sistematis dan lengkap. Cara kerja yang simpel dan tidak lengkap dapat mengurangi penilaian.
  • Hasil dan Pembahasan. Bab ini merupakan bab yang memiliki proporsi nilai yang paling besar. Di dalam laporan praktikum THV, hal berikut haruslah ada: klasifikasi lengkap pakai author yang didapatkan dari sumber (cantumkan sumbernya), hasil pengamatan karakter morfologi, literatur pembahas dan kunci determinasi.

    Literatur pembahas bukan hanya ditempelkan bulat-bulat satu paragraf, tetapi kita mengomentari hasil kita dengan menggunakan data dari literatur pembahas. Jadi, kalimatnya merupakan kalimat kita sendiri dan memakai data literatur. Contoh: “…Hasil yang didapatkan sesuai dengan Sianu (1945) yang menyatakan bahwa jenis ini memiliki karakter bla bla bla, tetapi sedikit berbeda dengan Siitu (2000) yang menjelaskan bla bla bla. Hal ini mungkin dikarenakan bla bla bla…”. Kalimat pembahas bisa bervariasi tergantung pandainya kita membahas data.

    Pastikan membuat kunci determinasi dengan sistem yang benar, cek istilah yang digunakan apakah sudah benar.

  • Penutup. Penutup ini berisi kesimpulan dan saran

    Buatlah kesimpulan dari praktikum yang dilakukan. Kesimpulan dapat berupa ciri khas yang ditemukan dari masing-masing jenis dan kesimpulan untuk seluruh jenis.

    Untuk saran, buatlah saran yang berguna bagi kelancaran praktikan selanjutnya dalam melakukan hal yang serupa serta untuk perbaikan praktikum.

  • Daftar Pustaka. Bagian inilah yang sering kali salah. Perhatikan dan pelajari cara pembuatan daftar pustaka yang benar untuk berbagai tipe literatur yang digunakan. Jangan coba-coba menipu asisten dengan membuat daftar pustaka fiktif. Mungkin asisten pendamping bisa terkecoh, tetapi asisten PJ yang memeriksa tidak akan bisa terkecoh. Jangan lupa (dan sangat penting!), periksa apakah literatur yang tertulis di dalam isi laporan semuanya telah tercantum di daftar pustaka, dan apakah semua literatur yang tercantum di daftar pustaka tertulis di dalam isi laporan praktikum.
  • Lampiran. Lampirkan salinan lembaran data yang berisi data mentah dibuat pada waktu praktikum.
  • Catatan: Untuk laporan yang ditulis tangan, hal ini sangat perlu diperhatikan. Dalam pemeriksaan laporan, sedikit banyaknya ada unsur psikologis dari si pemeriksa. Jadi, jangan buat si pemeriksa menjadi bosan melihat laporan, karena melihat tulisan yang tidak dibuat dengan hati. Buatlah laporan itu dengan ikhlas, karena keikhlasan dalam membuat laporan akan tercermin dari tulisan yang kita buat.

Mudah-mudahan sedikit tips ini berharga. Jika ada yang bisa memperbaiki dan melengkapi tips ini, banyak yang akan mengucapkan terima kasih.

06©Aad, 2010





Jika bertemu berang-berang, lakukan ini!

21 03 2013

Seri 3: Terlihat bangkainya (dalam keadaan mati)

Ketika sedang berjalan-jalan, naik sepeda motor ataupun mobil, bila tampak tergeletak bangkai seekor hewan, dan ternyata hewan tersebut bernama berang-berang (untuk hewan lain pun bisa berlaku), maka lakukan ini :

  • jangan sentuh dulu!!! (berlagaklah seperti detektif yang menemukan barang bukti atau petunjuk dalam pemecahan suatu kasus)
  • Amati, lakukan identifikasi semampunya
  • Perhatikan kondisi sekeliling
  • Analisa dari mana dan mau kemanakah siLS mati hewan ini
  • Perhatikan jalur yang dilewatinya, biasanya berang-berang menyeberangi jalan bertujuan untuk pergi dari suatu sungai menuju anak sungai atau saluran air kecil lainnya
  • lalu lakukan pemotretan:
  • posisi tergeletak alaminya
  • posisi tergeletak dengan sudut pengambilan yang memperlihatkan situasi di sekelilling
  • foto kondisi sekeliling, yang menampilkan sungai, jalur, vegetasi dan lainnya
  • foto bagian-bagian tubuhnya (telah dijelaskan sebelumnya pada seri 2)
  • Jika memungkinkan, spesimen tersebut akan diterima dengan senang hati oleh Museum Zoologi Universitas Andalas, bawa ke kampus. Apalagi jika ternyata berang-berang tersebut bernama Lutra sumatrana, maka SELAMAT anda telah menemukan harta karun!!!, HARUS dikoleksi!!!.
  • Jika tidak memungkinkan akses ke kampus, maka, ada dua pilihan. Pilihan pertama; anda bisa mengkoleksinya sendiri dengan mengawetkannya dengan alkohol atau formalin (butuh sangat banyak agar terendam semuanya) dan jangan lupa suntikan formalin ke dalam rongga perut dan saluran pencernaannya. Pilihan kedua; jadikan spesimen kulit dan spesimen tulang.
  • Spesimen kulit dibuat dengan cara: robek sedikit pada bagian perutnya, dari robekan ini lepaskan kaki dari badan dengan memotong pangkal paha. Setelah pahanya lepas, tarik dan keluarkan panggul beserta ekornya dari robekan tersebut, setelah itu lepaskan kulit dari badan seperti proses membuka baju. Nah, spesimen kulit telah dapat. Jika mau, anda bisa membuat boneka “offset” seperti halnya hewan-hewan yang dipajang di jurusan biologi, dengan cara mengganti tulang dengan kayu atau kawat, serta daging diganti dengan kapas (pada praktikum taksonomi hewan vertebrata akan diajarkan cara pembuatan spesimen kulit ini).

Spesimen tulang dibuat dengan cara: bungkus dengan plastik atau karung, lalu kuburkan ditempat yang aman dan bisa digali kembali. Setelah 2 bulan, gali kembali dan dapatkan tulangnya, dan jika berminat, silahkan susun kembali seperti halnya bermain “puzzle”.

O ya, jangan lupa mencatat tanggal dan lokasi dimana hewan tersebut ditemukan, kalau perlu tentukan titik koordinatnya dengan menggunakan GPS (Global Positioning System).

Hubungi Museum Zoologi Universitas Andalas, untuk informasi lebih lengkapnya
Kontak Museum Zoologi Universitas Andalas:
Dr. Wilson Novarino, M. Si (081363400609)
M. Nazri Janra, M. Si (081374324873)





Revenge to the Ants (Part II)

21 03 2013

Siapa bilang balas dendam hanya cukup satu kali? Di terbitan yang lalu kita sudah disuguhi dengan berbagai hewan yang meng-eliminasi para semut dari permukaan bumi ini. Bukan mereka saja yang menganggap semut “wueenak” buat jadi kudapan harian, banyak organisme—besar, kecil, imut, amit2 yang dibikin “sakit hati” oleh hewan kecil ini.. Berikut, organisme tersebut….

antbirdAntbird (family Thamnophilidae). Kelompok dengan anggota sebanyak 200 jenis ini bisa ditemui di Amerika Tengah dan Selatan, khususnya di bagian tropis. Bulu tubuh biasanya coklat gelap dengan warna putih pada bagian tengahnya. Paruh dan kaki kokoh. Burung ini biasanya mengikuti barisan semut yang sedang berjalan di dalam hutan dan biasanya memakan berbagai ragam serangga, bukan hanya semut. Sisi positif dari burung ini: mereka bersifat monogami, setia pada pasangan dan berani membela teritorinya.

 

Gambar di bawah bukan hasil jepretan praktikum anatomi tumbuhan—ujung akar bawang dan sebangsanya. Ini adalah sejenis nematodaNematoda, yang menginfeksi saluran pencernaan semut family Mermithidae sehingga abdomennya terlihat seperti menggembung. Dalam usus satu ekor semut, bisa terdapat dua ekor cacing, sehingga alasan kenapa semut terlihat buncit adalah karena hal ini. Cacing ini juga menginfeksi jenis serangga lain, seperti belalang, kumbang dan lalat. Kayaknya kita bisa bernyanyi sekarang “semoot juga kayak manusia…. juga bisa kena cacingan…..”

 

 

penyengat spider undur

Berbagai jenis serangga ikut-ikutan dalam memerangi si semut nakal ini. Yang teratas dalam daftar pemangsa semut adalah berbagai jenis laba-laba. Terhitung mulai dari jenis si Janda Hitam-Black Widow (Latrodectus spp.), laba-laba srigala-Lynx Spider (Oxyopes spp., Euryopis spp.) sampai laba-laba peloncat Salticidae, semuanya doyan kudapan lezat berbahan dasar semut. Serangga lainnya yang termasuk list musuh semut antara lain undur-undur, yang biasanya menggali lubang jebakan di tanah yang berpasir atau berdebu tebal. Semut mangsanya yang terjatuh ke dalam lubang jebakan ini biasanya akan ditenggelamkan ke dalam pasir untuk kemudian “dicekik” dengan menggunakan sepasang capit kuat yang terdapat di kepalanya. Kemudian ada jenis lalat dari family Phoridae (Pseudacteon spp.) yang suka meletakkan telurnya pada semut. Setelah larva menetas, tugas si larva inilah menghabisi semut yang menjadi inangnya. Semut yang biasa diserangnya adalah kelompok semut api (Solenopsis), dan tampaknya hanya menyerang pada kelompok semut ini saja. Beberapa ahli mencoba memanfaatkan lalat ini sebagai agen hayati untuk mengendalikan populasi semut api yang dalam jumlah banyak bisa sangat mengganggu kepentingan manusia.

 

Semakin ditelusuri, semakin banyak kami temukan pihak-pihak lain yang punya dendam yang sama. Semut, dendam ini belum juga tuntas…!! Tetap tunggu edisi berikutnya…!!!

 

Mr. M (dari berbagai sumber)

 

Sumber foto: antbird: http://en.wikipedia.org/wiki/Antbird . Nematoda dan semut: http://www.tightloop.com/ants/nematode.htm Laba-laba dan undur-undur: wikipedia.com Lalat Pseudacteon: http://uts.cc.utexas.edu/~gilbert/research/fireants/pseudacteon.html





Killer Whale, Orcinus orca

2 03 2013

Mamalia laut melakukan penyelaman sebagai bentuk adaptasinya terhadap lingkungan. Kelihaiannya menyelam dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya jenis kelamin, umur, berat tubuh, konsentrasi haemoglobin dan myglobin, dan kapasitas oksigen (O2) dalam darah dan otot. Allah telah menciptakan tubuhnya sangat tahan terhadap tekanan yang tinggi di kedalaman air laut. Oksigen yang mengalir dalam darah dan otot-ototnya bercampur dengan zat-zat kimia memberinya tenaga saat di dalam air atau saat tidak bernafas. Paus mempunyai sistem sirkulasi yang khas yang dapat mengalirkan darah secara langsung dari organ menuju otak. Melalui cara ini, sampai saat paus muncul di permukaan air untuk bernafas, ia tetap dapat mengirim oksigen di dalam tubuhnya secara langsung ke otak, organ yang paling membutuhkan oksigen. Melalui cara ini paus dapat tetap berada di bawah laut selama kurang lebih 15 – 20 menit tanpa bernafas. Tidak seperti manusia, paus tidak menderita ‘bend’ (kejutan atau rasa sakit akibat penurunan tekanan di sekitar secara tiba-tiba) ketika muncul secara cepat ke permukaan air.

Separuh dari hidupnya paus pembunuh ini hidup secara berkelompok, biasanya satu rombongan paus pembunuh terdiri dari satu keluaga yeng terdiri dari paus jantan dan betina serta anak-anaknya. Apabila ditemukan berkelompok, sangat mudah membedakan kelaminnya dari postur tubuhnya (sexual dimorfisme), biasanya paus jantan sepertiga lebih besar dar paus betina. Paus ini sangat menyukai 2 species ikan salmon (Oncorhynchus spp). Bain (1989) menyatakan bahwa paus jantan dewasa mempunyai cara makan dengan memakan sekelompok ikan sekaligus, sehingga penyelamannya lebih dalam daripada betina dewasa, disamping itu perbedaan berat badan yang juga cukup berbeda. Perbedaan keaktifan menyelam pada siang dan malam. Paus ini lebih aktif di permukaan pada malam hari, hal ini disebabkan karena ikan mangsa dari paus utama (2species salmon) aktif di permukaan pada malam hari (Walbaum in artedi, 1792). Pada tahun-tahun tertentu, paus ini memiliki rata-rata penyelaman yang lebih dalam, ini tergantung dengan penyebaran ikan salmon sebagai mangsanya. Jadi kebiasaan menyelam sang paus pembunuh ini sangat dipengaruhi oleh mangsanya… kalo gada makanan ya… ngapain nyelam….. ya ga?!?!?` heheheheheee

Sekedar informasi…paus pembunuh yang sering dipanggil “Killer Whale” ini ditangkarkan pada beberapa tempat wisata kelautan…paus ini dilatih dan dijinakan untuk dijadikan tontonan untuk berbagai akrobat. Di Stadium Shamu, Sea World Orlando USA paus ini bahkan dijadikan maskot pada pintu gerbang masuknya, namun siapa sangka di tempat ini pulalah sang paus pembunuh membunuh pelatihnya (trainer) sebanyak 2kali…sangat disayangkan…mungkin ada baiknya hewan2 yang sudah cukup jarang ditemukan ini kembalikan ke alam aslinya…selain untuk mencegah korban selanjutnya…juga untuk mempertahankan speciesnya…bukan begitu betulllllll?!?!?

Sumber bacaan : Jurnal Factors influencing the diving behaviour of fish-eating killer whales: sex differences and diel and interannual variation in diving rates oleh Robin W. Baird, M.Bradley, and Laurence M. Dill dan Artikel Harun Yahya, Pesona Alam Satwa.

Okelah Kalo Begitooooo…..

salam Zozo…V-Sea





ANTS ATTACK !!!…

19 02 2013

SENJATA AMPUH SEMUT DALAM MENYERANG DAN BERTAHAN

Jangan pernah main-main dengan semut! walaupun semut kelihatan kecil dan tidak berdaya, tapi hati-hati dengan senjata yang dimiliki oleh semut. Untuk menyerang dan bertahan semut memiliki tiga cara jitu yaitu:ant Baca entri selengkapnya »





Berang-berang bukanlah “si pembuat bendungan”

19 02 2013

Mungkin banyak dari kita sangat mengenal berang-berang sebagai “si Pembuat Bendungan”. Informasi ini didapatkan dari berbagai sumber, baik cerita, film kartun, film dokumenter, film dan artikel Harun Yahya dan dari sumber lainnya. Informasi ini menyesatkan, karena berang-berang tidak memiliki kebiasaan membuat bendungan. Hewan cerdik yang mampu membuat bendungan dari tumpukan batang kayu tersebut adalah “beaver”. Apa bahasa Indonesianya? “Ya, tidak ada!”. Karena beaver ini hanya terdapat di Amerika bagian Utara. Sedangkan yang disebut berang-berang dalam bahasa Inggrisnya adalah “otter”. Inilah yang ada di Indonesia. Berikut akan dijelaskan sedikit tentang berang-berang (otter) yang sebenarnya. Baca entri selengkapnya »





Senjata Ampuh Semut dalam Menyerang dan Bertahan

22 08 2010

Jangan pernah main-main dengan semut! walaupun semut kelihatan kecil dan tidak berdaya, tapi hati-hati dengan senjata yang dimiliki oleh semut. Untuk menyerang  dan bertahan  semut memiliki tiga cara jitu yaitu:

  1. Menggigit dengan mandibulanya
  2. Menyemprotkan zat kimia beracun
  3. Menggunakan sengatnya

Sebagian besar semut  mengkombinasikan elemen-elemen yang mereka miliki. Elemen mandibula dikombinasikan dengan Elemen air, maka jadilah tehnik menggigit dengan semprotan zat kimia beracun. Ketika elemen sengat dikombinasikan dengan elemen mandibula, maka jadilah tehnik yang sangat mematikan. Tehnik-tehnik ini  telah mereka pelajari dan kuasai selama turun-temurun.

Menggigit dengan mandibulanya merupakan cara jitu yang dipakai oleh beberapa semut diantaranya oleh semut dari genus Formica.

Semut yang bersenjatakan zat kimia beracun atau lebil dikenal dengan asam format digunakan oleh semut Oecophylla atau  karanggo dan Crematogaster. Oecophylla mengkombinasikan asam format dan gigitannya dalam menyerang dan mempertahankan diri. Asam format yang dihasilkan berbau busuk. Ketika semut ini menyemprotkan asam formatnya. Ada dua hal yang akan terjadi; pertama, alarm tanda bahaya bagi seluruh anggota koloninya dan kedua, sasaran atau target yang akan diserang oleh semut ini.

Tehnik bertahan dan menyerang yang paling mematikan dari semut adalah sengat. Sebagian besar semut juga mengkombinasikan sengat dengan gigitan mandibulanya. Semut yang memiliki senjata ini diantaranya dari genus Leptogenys dan Solenopsis. Khususnya pada genus solenopsis atau semut api memiliki zat beracun pada sengatnya yang  disebut solenopsin. Zat ini akan menyebabkan pedih dan gatal-gatal dan bisa sangat berbahaya bagi manusia yang memiliki alergi kulit (Antboy).