Killer Whale, Orcinus orca

2 03 2013

Mamalia laut melakukan penyelaman sebagai bentuk adaptasinya terhadap lingkungan. Kelihaiannya menyelam dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya jenis kelamin, umur, berat tubuh, konsentrasi haemoglobin dan myglobin, dan kapasitas oksigen (O2) dalam darah dan otot. Allah telah menciptakan tubuhnya sangat tahan terhadap tekanan yang tinggi di kedalaman air laut. Oksigen yang mengalir dalam darah dan otot-ototnya bercampur dengan zat-zat kimia memberinya tenaga saat di dalam air atau saat tidak bernafas. Paus mempunyai sistem sirkulasi yang khas yang dapat mengalirkan darah secara langsung dari organ menuju otak. Melalui cara ini, sampai saat paus muncul di permukaan air untuk bernafas, ia tetap dapat mengirim oksigen di dalam tubuhnya secara langsung ke otak, organ yang paling membutuhkan oksigen. Melalui cara ini paus dapat tetap berada di bawah laut selama kurang lebih 15 – 20 menit tanpa bernafas. Tidak seperti manusia, paus tidak menderita ‘bend’ (kejutan atau rasa sakit akibat penurunan tekanan di sekitar secara tiba-tiba) ketika muncul secara cepat ke permukaan air.

Separuh dari hidupnya paus pembunuh ini hidup secara berkelompok, biasanya satu rombongan paus pembunuh terdiri dari satu keluaga yeng terdiri dari paus jantan dan betina serta anak-anaknya. Apabila ditemukan berkelompok, sangat mudah membedakan kelaminnya dari postur tubuhnya (sexual dimorfisme), biasanya paus jantan sepertiga lebih besar dar paus betina. Paus ini sangat menyukai 2 species ikan salmon (Oncorhynchus spp). Bain (1989) menyatakan bahwa paus jantan dewasa mempunyai cara makan dengan memakan sekelompok ikan sekaligus, sehingga penyelamannya lebih dalam daripada betina dewasa, disamping itu perbedaan berat badan yang juga cukup berbeda. Perbedaan keaktifan menyelam pada siang dan malam. Paus ini lebih aktif di permukaan pada malam hari, hal ini disebabkan karena ikan mangsa dari paus utama (2species salmon) aktif di permukaan pada malam hari (Walbaum in artedi, 1792). Pada tahun-tahun tertentu, paus ini memiliki rata-rata penyelaman yang lebih dalam, ini tergantung dengan penyebaran ikan salmon sebagai mangsanya. Jadi kebiasaan menyelam sang paus pembunuh ini sangat dipengaruhi oleh mangsanya… kalo gada makanan ya… ngapain nyelam….. ya ga?!?!?` heheheheheee

Sekedar informasi…paus pembunuh yang sering dipanggil “Killer Whale” ini ditangkarkan pada beberapa tempat wisata kelautan…paus ini dilatih dan dijinakan untuk dijadikan tontonan untuk berbagai akrobat. Di Stadium Shamu, Sea World Orlando USA paus ini bahkan dijadikan maskot pada pintu gerbang masuknya, namun siapa sangka di tempat ini pulalah sang paus pembunuh membunuh pelatihnya (trainer) sebanyak 2kali…sangat disayangkan…mungkin ada baiknya hewan2 yang sudah cukup jarang ditemukan ini kembalikan ke alam aslinya…selain untuk mencegah korban selanjutnya…juga untuk mempertahankan speciesnya…bukan begitu betulllllll?!?!?

Sumber bacaan : Jurnal Factors influencing the diving behaviour of fish-eating killer whales: sex differences and diel and interannual variation in diving rates oleh Robin W. Baird, M.Bradley, and Laurence M. Dill dan Artikel Harun Yahya, Pesona Alam Satwa.

Okelah Kalo Begitooooo…..

salam Zozo…V-Sea


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: